KOMPAS Yogyakarta

Komunitas Mahasiswa Kelapa Sawit — G’BYE Angkt 2005 and G’Work Angkt 2006

Luas, Peluang Kerja di Perkebunan

Posted by erik12127 pada 6 April, 2008

DEPOK — Peluang kerja di sektor perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI) semakin luas. Terbukti, semakin banyak perusaaan yang merekrut tenaga kerja lulusan perguruan tinggi perkebunan dan pertanian, termasuk Instiper Yogyakarta. Bahkan beberapa perusahaan sudah “mengikat” mahasiswa calon sarjana perkebunan/kehutanan dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan pihak perguruan tinggi, termasuk Instiper Yogyakarta, di antaranya adalah PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sinar Mas Tbk.
Namun, jumlah alumni Instiper yang berminat untuk bekerja di sektor ini (perkebunan/kehutanan) pada umumnya masih rendah, lebih sedikit daripada jumlah yang dibutuhkan perusahaan tersebut. Dengan kata lain, hanya sebagian alumni Instiper yang berminat bekerja di sekotor perkebunan/kehutanan.     “Saya berharap, sebagai anak bangsa yang sadar akan nasionalisme, para alumni Instiper harus mampu berperan dalam pembangunan perkebunan.
Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang (paradigma) terhadap perkebunan/kehutanan, tentunya dengan tidak menggeneralisir masalah-masalah pertanian tananam pangan menjadi permasalahan pertanian secara umum. Masalah impor beras, kelangkaan kedelai, impor gula dan naiknya harga gandum serta stigma kemiskian yang dilekatkan pada petanian tanaman pangan tentunya tidak selayaknya dipergunakan untuk menilai keragaan produktivitas perkebunan/kehutanan,” kata Rektor Institut Pertanian “STIPER” (Instiper) Yogyakarta Dr Ir Herry Wirianata MS ketika mewisuda 126 sarjana baru lulusan Instiper di Kampus Instiper Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu (16/2).
Para wisudawan/wati tersebut berasal dari berbagai jurusan/program studi yang ada di Instiper. Dengan diwisidanya 126 sarjana baru tersebut maka sejak berdirinya Instiper hingga sekarang, tercatat 9.612 sarjana S1 yang dihasilkan.     Menurut Herry, bila dicermati tidak semua subsektor pertanian mempunyai citra buruk.
Misalnya, sektor perkebunan pada umumnya mampu memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Bahkan dalam satu dekade terakhir, Hutan Tanaman Industri (HTI) juga mempunyai posisi strategis dalam pembangunan nasional. “Perkembangan perkebunan dan HTI juga mempunyai manfaat global, terutama dalam mereduksi gas rumah kaca yang mempunyai kontribusi dalam memperlambat global warming,” kata Herry.
Dikatakan, fakta sangat menarik ditunjukkan oleh pembangunan perkebunan kelapa sawit. Masuknya investor asing, persoalan kelestarian alam dan tingginya harga minyak goreng merupakan tantangan bagaimana mensinergikan kepentingan nasional dan internasional dalam pengembangan kelapa sawit.
“Hal ini disadari sepenuhnya oleh Instiper yang sejak berdiri tahun 1958 memilih perkebunan sebagai core pendidikan tingginya. Relevansi pendidikan perkebunan menjadi perhatian utama Instiper dalam menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja perkebunan/kehutanan.
Karena itu Instiper telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sinar Mas Tbk,” kata Herry selaku Rektor. (Bernas Jogja)

3 Tanggapan to “Luas, Peluang Kerja di Perkebunan”

  1. Heru said

    Saya Lulusan 2007 Unversitas Di bandung jurusan Agronomi S-1 sampai sekarang belum memdapatkan pekerjaan mohon bila ada lowongan kirim e_mail alamat ini

  2. puryanto said

    saya lulusan Sekolah Tinggi di
    kalimantan Selatan jurusan S-1 Sistem Informasi ingin bekerja di perusahaan perkebunan, mohon saya diberi tau bila ada informasi lowongan, terima kasih

  3. […] DEPOK — Peluang kerja di sektor perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI) semakin luas. Terbukti, semakin banyak perusaaan yang merekrut tenaga kerja lulusan perguruan tinggi perkebunan dan pertanian, termasuk Instiper Yogyakarta. Bahkan beberapa perusahaan sudah “mengikat” mahasiswa calon sarjana perkebunan/kehutanan dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan pihak perguruan tinggi, termasuk Instiper Yogyakarta, di antaranya adalah PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sinar Mas Tbk. Namun, jumlah alumni Instiper yang berminat untuk bekerja di sektor ini (perkebunan/kehutanan) pada umumnya masih rendah, lebih sedikit daripada jumlah yang dibutuhkan perusahaan tersebut. Dengan kata lain, hanya sebagian alumni Instiper yang berminat bekerja di sekotor perkebunan/kehutanan.     “Saya berharap, sebagai anak bangsa yang sadar akan nasionalisme, para alumni Instiper harus mampu berperan dalam pembangunan perkebunan. Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang (paradigma) terhadap perkebunan/kehutanan, tentunya dengan tidak menggeneralisir masalah-masalah pertanian tananam pangan menjadi permasalahan pertanian secara umum. Masalah impor beras, kelangkaan kedelai, impor gula dan naiknya harga gandum serta stigma kemiskian yang dilekatkan pada petanian tanaman pangan tentunya tidak selayaknya dipergunakan untuk menilai keragaan produktivitas perkebunan/kehutanan,” kata Rektor Institut Pertanian “STIPER” (Instiper) Yogyakarta Dr Ir Herry Wirianata MS ketika mewisuda 126 sarjana baru lulusan Instiper di Kampus Instiper Maguwoharjo, Depok, Sleman, Sabtu (16/2). Para wisudawan/wati tersebut berasal dari berbagai jurusan/program studi yang ada di Instiper. Dengan diwisidanya 126 sarjana baru tersebut maka sejak berdirinya Instiper hingga sekarang, tercatat 9.612 sarjana S1 yang dihasilkan.     Menurut Herry, bila dicermati tidak semua subsektor pertanian mempunyai citra buruk. Misalnya, sektor perkebunan pada umumnya mampu memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Bahkan dalam satu dekade terakhir, Hutan Tanaman Industri (HTI) juga mempunyai posisi strategis dalam pembangunan nasional. “Perkembangan perkebunan dan HTI juga mempunyai manfaat global, terutama dalam mereduksi gas rumah kaca yang mempunyai kontribusi dalam memperlambat global warming,” kata Herry. Dikatakan, fakta sangat menarik ditunjukkan oleh pembangunan perkebunan kelapa sawit. Masuknya investor asing, persoalan kelestarian alam dan tingginya harga minyak goreng merupakan tantangan bagaimana mensinergikan kepentingan nasional dan internasional dalam pengembangan kelapa sawit. “Hal ini disadari sepenuhnya oleh Instiper yang sejak berdiri tahun 1958 memilih perkebunan sebagai core pendidikan tingginya. Relevansi pendidikan perkebunan menjadi perhatian utama Instiper dalam menghasilkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja perkebunan/kehutanan. Karena itu Instiper telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sinar Mas Tbk,” kata Herry selaku Rektor. (Bernas Jogja) https://spksinstiper.wordpress.com/2008/04/06/luas-peluang-kerja-di-perkebunan/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: